TIDAK BOLEH ADA LULUSAN POLITEKNIK YANG MENGANGUR

 

Pemerintah melakukan gebrakan dibidang Pendidikan dengan Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi. Menurut Dirjen Kelembagaan Iptekdikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Patdono Suwingjo,
Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi ini dilakukan karena Pemerintah ingin semua lulusan Politenik bisa diterima kerja
sesuai kompetensinya.Patdono menjelaskan, faktanya adalah saat ini jika mahasiswa Politeknik itu diuji kompetensi akan dapat diketahui bahwa banyak dari mereka yang tidak akan lulus. Banyak faktor yang menjadi penyebab, katanya, seperti
kurikulKm yang tidak sesuai dengan industri inginkan, sistem pembelajaran yang belum teaching factory dan dosennya
bukan lulusan Pendidikan Vokasi.Peraih gelar S3 bidang Strategic Performance Management dari University of Strathclyde, Glasgow ini menjelaskan,hanya ada 262 Politeknik dari total populasi Perguruan Tinggi di Indonesia yang mencapai 4.529. Sementara total jumlah mahasiswa Politekniknya hanya 746.000 saja.Bandingkan dengan Austria yang 78% mahasiswanya adalah jurusan Vokasi dan begitu pula Belanda yang mencapai 70%.Menurut pria kelahiran Kediri ini, data empiris ini menjadi bukti mengapa industri di tanah air belum bisa maju.Indonesia, kata dia, kekurangan tenaga terampil sebab
sebuah Negara yang maju dapat dipastikan mahasiswa Politekniknya harus paling tidak 50%. “Maka pada 2017 ini
kita akan Revitalisasi 12 Politeknik berbasis STEM dan satu Politeknik Kesehatan,” jelasnya.
Sementara untuk meningkatkan jumlah Politeknik maka Kemenristekdikti akan membuat pilot project Pendidikan Jarak Jauh untuk kawasan 3T yang akan dilaksanakan oleh dua Institut Teknologi dan dua Politeknik. Menurut dia,Pendidikan Jarak Jauh ini akan sangat efektif dan efisien,sebab untuk mengembangkan Perguruan Tinggi Vokasi sangat mahal. Universitas Terbuka (UT) yang sudah malang-melintang dibidang Pendidikan Jarak Jauh akan turut serta dalam pilot project ini.

 


Selain itu Kemenristekdikti juga akan berupaya untuk menghasilkan dosen produktif. Secara kelembagan, katanya, pihaknya mulai tahun depan akan mendirikan program studi Profesi Guru untuk mengakomodasi masih terbatasnya jumlah Guru produktif di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan. “Khusus Guru SMK ada program khusus dengan
prodi Profesi Guru. Inputnya bisa dari lulusan prodi Keguruan Poltek dan Teknik dari Universitas atau Institut Teknologi.
Sebab untuk menjadi Guru Vokasi itu mereka harus memiliki pengalaman atau Pendidikan Vokasi yang baik,” terangnya.
Selain itu Pemerintah juga akan menggandeng pihak swasta untuk pengembangan dan Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi ini. Hal ini berkaca dari Negara maju yang sudah melibatkan industri kedalam Pendidikan Vokasi. Maka mulai sekarang, katanya, Pemerintah akan mendorong supaya industri mempunyai kepedulian dan keterlibatan dalam Vokasi.
“Sasaran Pemerintah ialah pada akhir 2019 tidak boleh ada satupun lulusan Politeknik yang menganggur”
– Patdono
Patdono menjelaskan, untuk perusahaan yang sudah berskala besar akan didorong untuk mendirikan Politeknik. Kemenristekdikti pun akan turun tangan dengan membantu menyusun kurikulum, penyediaan dosen melalui Recognition
Prior Learning (RPL) dan pendampingan pada saat penyusunan proposal. Menurutnya, sosialisasi sudah dilakukan dan mendapat apresiasi yang bagus dari industri. Dia mengungkapkan,dalam waktu dekat akan beroperasi Politeknik industri smelter di Morowali, Sulawesi Tengah. Lalu Petrokimia Gresik juga akan mendirikan Politeknik yang spesifik di
bidangnya. Dia menyatakan, jika Kampus yang dikelola secara profesional dan langsung dari ahlinya pasti akan
menghasilkan lulusan yang kompetensinya tinggi. “Jika indutri bergabung dalam Revitalisasi Pendidikan Tinggi
Vokasi ini tentu akan meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) juga karena

Oleh : Neneng
Foto : Ardian

Sumber Majalah

Majalah Ristekdikti Vol.7/I/2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *